Maafkan Aku Mama

February 1st, 2008 by jempolmu

Maafkan aku Mama. Kali ini aku takkan pergi. Karena kalau aku pergi kali ini, aku akan kehilangan sesuatu yang paling berharga yang pernah aku miliki di dunia ini.

Mama, persis satu tahun yang lalu aku rela meninggalkan sesuatu yang hampir membuat hidupku tenang. Aku rela meninggalkan sesuatu yang bernama perempuan itu hanya demi untuk mebahagiakanmu Mama. Aku rela meninggalkan sesuatu yang bernama perempuan itu hanya demi untuk kesempurnaan keturunan keluarga kita yang konon kabarnya "bukan keluarga biasa". Hahah!! sekarang aku sudah tidak peduli dengan kalimat bertanda petik itu Ma.

Maafkan aku Mama. Kali ini aku tidak akan pergi. Karena saat bersamanya aku merasa teduh seperti berada di rumah. Aku juga tidak menyangka Ma, kalau ternyata ada seorang perempuan yang mampu mencairkan kebekuan hatiku. Hati yang kosong dan seperti mati tak berpenghuni. mungkin inilah saatnya Ma, inilah saatnya aku meninggalkan gilanya kesepian-kesepian.. walau kadang aku menikmatinya.

Ma, aku tidak ingin menjadi luar biasa seperti apa yang Mama mau. Karena sesuatu yang luar biasa itu tidak wajar Ma, lihat saja sekolah luar biasa, itu kan tempatnya orang-orang yang cacat dan tidak wajar bukan?! :P

Maafkan aku Mama

Kedua Jalan Itu Buntu

November 1st, 2007 by jempolmu

BANGUN tidur yang kembali "tertidur" oleh realitas kehidupan yang tak pernah tidur.

Apalagi ini Tuhan… sekali lagi Kau letakkan aku di posisi yang sulit. Mimpi tentang seseorang yang minta kepastian akan pilihan hidupnya, akan masa depannya. Wajah seorang wanita yang dengan manjanya memaksaku tuk memastikan akan pilihan mana yang mesti kuambil.

Oh God.. harus berapa kali lagikah aku bilang bahwa aku telah "MATI". Apakah sebegitu sulitnya bagi "…" untuk mengartikan kata "MATI". Dan harus bagaimana lagi ketika seseorang berada di sebuah persimpangan jalan, dan setelah kedua jalan yang bersimpangan itu dicoba untuk dilaluinya tapi ternyata kedua jalan itu buntu, sedangkan dia harus terus berjalan.

jan.. ruwet tenan. Mabur wae po yo? po ngilang wae? :)

Senandung Lagu Cinta

June 14th, 2007 by jempolmu

Seorang teman mengirimkan pesan ini padaku:

Hen, coba deh lo dengerin lagu cengeng ini. Saat lo lagi sendiri, terserah mau dimana aja yang penting lagi sendiri dan nyaman. terus kondisi lo lagi kena gelek, biar hati lo sensitif dulu. Nahh, lo dengerin deh ni lagu.

Senandung lagu cinta tercipta untukmu

Yang getarkan jiwa ini, lumpuhkan jantungku

Kecantikan sempurna yang tak terlukiskan

Bahagiakan diri ini saat bersamamu

Meskipun kusadari tak mungkin memelukmu

Waktu kau isyaratkan bahwa dirimu tlah bersamanya

Tatap matamu tuk yang terakhir… siksa bathinku yang mencintaimu

Kupasrahkan pada ilahi… relakanmu untuknya…

Jurang yang dalam pisahkan kita Yang tak mungkin untuk dilalui

Biarlah lagu cinta ini terdengar dalam kalbu

Lekuk tubuh anggunmu bagaikan sang dewi

Di dalam sanubariku terukir wajahmu

"Makasih teman.. sayangnya aku tidak punya waktu buat dengerin lagu begituan"

miTos

May 27th, 2007 by jempolmu

Pukul lima lewat lima belas. Aku masukkan kartu absensiku ke dalam mesin absen. Langkahku berat untuk menuruni satu demi satu anak tangga menuju  lantai satu. Tidak ada lif di gedung ini.

Lelah sekali aku. Belum lagi aku harus mengahadapi kemacetan yang biadab antara Cawang menuju Depok, didalam bus Mayasari, penuh sesak, bau, dan kadang aku harus berdiri. Brengsek! kota sialan, kota kegagalan, kota putus asa, kota kekecewaan, penuh kubangan taik, dan kriminal. Sepanjang perjalan aku hanya memaki-maki dalam hati. Memaki-maki rutinitas seperti ini yang harus kujalani setiap hari. Seperti ini dan seperti ini lagi. Rutinitas yang membosankan, yang bisa  membunuhku kapan saja. Aku terus memaki-maki atas kegagalan hidupku. Aku yang goblok dan tidak berguna. Aku sampah.

Hidupku tidak akan seperti ini kalau saja Bapakku seorang seniman. Laki-laki sensitif. Tapi Bapakku tidak seperti itu. Bapakku adalah politisi, yang kepalanya sekeras batu dan pendiriannya seperti batu karang. Yang menganggap dirinya manusia paling sempurna. Yang selalu menggoblok-gobloki aku saat namaku tidak tercantum di pengumuman SIPENMARU, dan saat aku tidak lulus ujian masuk Fakultas Tehnik di Universitas swasta ternama. Dan aku lebih digoblok-gobloki lagi karena aku hanya diterima di Fakultas Ekonomi jurusan Akutansi di sebuah Universitas  swasta kampungan, yang hanya berhasil menciptakan banyak pengangguran. Bapakku terus menggoblok-gobloki aku tanpa ampun. Hatiku ngilu. Biarkan aku menjadi diriku sendiri Pak. Aku hanya berani mengatakannya dalam hati. Hanya dalam hati.

Bus yang kutumpangi berhenti di depan Mal Depok. Jalanan macet. Sama sekali tidak bergerak. Aku turun dan berjalan kaki karena gang menuju rumahku sudah tidak jauh lagi. Maksudku, rumah kontrakan mertuaku. Setelah menikah, aku numpang dirumah kontrakan mertuaku, karena untuk tinggal bersama orang tuaku di Pondok Indah rasanya tidak mungkin. Ada alasan klasik yang membuat aku tidak bisa tinggal bersama orang tuaku. Aku merasakan sesuatu merambat naik didalamku. Hatiku sakit. Tiba-tiba aku ingat saat Bapakku membanding-bandingkan aku dengan dia. Bahwa dia mampu menaklukkan Jakarta. Bahwa dia adalah perantauan yang sukses dan berhasil menjadi orang kaya, setidaknya bisa beli rumah di Pondok Indah. Tidak seperti aku. Laki-laki gagal dan tidak berguna.

Sesampainya di rumah, istriku sedang menonton sinetron sambil menyusui Hening anakku. Aku letakkan tas kerjaku di meja makan dan langsung menuju kamar mandi. Aku lalu melucuti pakaianku, dan mandi air dingin dengan gayung. Selesai mandi, istriku sudah menyiapkan teh hangat dan sepiring nasi hangat yang baru diambil dari majig jar. Aku mengambil lauk tempe bacem dan sayur kacang panjang.

" Mas, obatnya Bapak yang setengah lagi sudah jadi ditebus?" Istriku membuka obrolan sambil menimang-nimang Hening anakku supaya tidur.

"Belum. Aku belum ketemu orang bagian keuangan, mereka ada meeting tadi." Bapak mertuaku sedang sakit. Dia menjadi sakit-sakitan sejak meninggalnya Ibu mertuaku. Sudah seharusnya ini menjadi tanggung jawabku. Tapi untuk beli obat bapak mertuaku saja aku harus cas bon kantor dulu. Tidak berguna. Aku memang tidak berguna.

"Tadi malam aku mimpi lagi Mas. Dan ini sudah tiga hari berturut-turut aku mimpi yang sama. Gigiku tanggal." tampak kekhawatiran di wajah istriku.

"Sama seperti beberapa hari sebelum Ibu meninggal dulu, aku juga mimpi seperti ini. Aku takut Mas. Bapak itu sudah sepuh, dan sakitnya tidak sembuh-sembuh." Sambungnya, masih sambil menimang-nimang anakku yang sedikit terbangun.

"Iya Sri, Besok aku tebus obatnya ya." Istriku lalu masuk ke dalam kamar setelah melihat keadaan bapak mertuaku terlebih dulu.

Aku selesaikan suapan terakhirku, dan kudorong makanan yang kukunyah dengan teh hangat supaya masuk kedalam perutku. Setelah mengambil Dji Sam Soe dari tas kerjaku, aku lalu duduk didepan televisi. Aku pijit-pijit Dji Sam Soe ku yang kubeli dari asongan di halte saat aku menunggu bus tadi. Ketengan. Aku tidak mampu membeli sebungkus rokok sejak anakku lahir. Ironis kalau uangku mengepul menjadi asap rokok sedangkan anakku hanya minum sebotol kecil susu lanjutan asi setiap harinya.  Aku raih remote di sampingku, aku pindahkan saluran televisi dari SCTV ke RCTI. Breaking News, Seorang pengendara sepeda motor tewas tertimpa crine dari sebuah proyek di jalan Sudirman. Memang banyak cara untuk mati di Jakarta ini. Kenapa tidak aku saja yang tertimpa crine itu. Biar aku mati. Dan tidak bisa merasakan beban hidup yang berat ini. Dan tidak merasakan hidup sebagai orang gagal total seperti ini.

Srikandi nama istriku, seharusnya dia mendapatkan laki-laki tangguh seperti arjuna. Bukan seperti aku yang tidak bisa melindunginya dari beratnya hidup. Aku mengenalnya dulu waktu aku masih kuliah, dia satu tingkat dibawahku. Orang tuanya, yaitu mertuaku sekarang, dulu berjualan nasi gudeg dijalan seberang kampusku. Aku sering makan disana, dan kadang-kadang Sri yang melayaniku kalau sedang tidak ada kuliah. Sri memang perempuan sederhana, yang tidak malu membantu orang tuanya berjualan padahal di depan kampusnya sendiri. Berbeda dengan cewek-cewek kampusku kebanyakan, yang hanya pintar bersolek dan rela merendahkan dirinya hanya untuk sekedar mendapatkan hand phone keluaran terbaru, atau hanya untuk sekedar dibilang seksi. Sri tidak seperti itu. Dan aku jatuh cinta padanya, lalu kamipun pacaran. Suatu hari Sri bilang padaku bahwa dia hamil. Aku juga tidak mengerti bagaimana dia bisa hamil, padahal seingatku aku selalu orgasme diluar. Tapi aku harus bertanggungjawab. Aku ingin bersikap seperti laki-laki. Aku bilang kepada orang tuaku kalau aku menghamili Sri dan aku akan menikahinya. Aku pikir Bapakku akan bangga karena aku laki-laki yang bertanggungjawab. Tapi ternyata aku salah, aku justru diusir dan tidak dianggap anak lagi. Aku diusir seperti kucing. Ibuku tidak bisa berbuat apa-apa, terlalu takut pada Bapakku. Hatiku hancur. Aku bersumpah, suatu saat nanti aku akan jadi kaya. Aku akan buka restoran gudeg diseluruh propinsi, dan aku akan mencetak berjuta-juta rupiah sebagai pengusaha seperti Ayam Bakar Wong Solo. Dan akan kuludahi omongan Bapakku. Tapi melihat keadaanku sekarang, sepertinya Bapakku yang lebih pantas meludahiku.

Seminggu setelah aku menikah dengan Sri, dalam sebuah pernikahan tanpa kehadiran orang tuaku. Aku sedang duduk di depan televisi di rumah kontrakan mertuaku saat Ibu mertuaku digotong oleh beberapa orang, diantar pulang dalam keadaan pingsan. Setelah aku tanya dari orang-orang yang mengantar, ibuku shock karena lapak tempat berjualan nasi gudeg diobrak-abrik oleh Satuan Polisi PP. Mimpiku untuk menjadi pengusaha restoran kandas sudah. Sejak saat itu Ibu mertuaku sakit-sakitan. Uang tabungan mereka habis dirumah sakit, dan dua bulan kemudian Ibu mertuaku meninggal. Tidak cukup sampai disitu. Sepeninggalan Ibu mertuaku, Bapak mertuaku yang sakit-sakitan. sampai sekarang.

Kumatikan televisi dan juga rokokku. Mataku seperti digelayuti timah dua kilogram. Lelah dan ngantuk. Sebelum masuk ke kamarku, aku singgah sebentar ke kamar Bapak mertuaku. Tubuhnya kurus terbaring diatas tempat tidur. Nafasnya berat, tapi cepat sekali dadanya naik turun. Entah darimana pikiran itu datang, tiba-tiba aku melihat Bapakku yang terbaring di tempat tidur itu. Sulit bernafas, matanya mendelik-mendelik, seperti mau mati tapi susah, dan akhirnya mati seperti seharusnya. Aku terkekeh sendiri.

Hand phone Nokia 3210 berbunyi. Ternyata alarm. Kuraih 3210 ku dan kumatikan alarmnya. Pukul setengah lima dini hari. Aku malas sekali untuk bangun. Badanku pegal-pegal. Kepalaku pusing, membayangkan yang harus aku lalui hari ini. Masih seperti kemarin. Kebosanan yang mematikan. Aku bangun, mandi, dan mengambil kemeja krem dan celana bahan hitam untuk kukenakan. Istriku masih tertidur bersama anakku. Dalam Hening. Seperti nama anakku. Kukecup kening istri dan anakku, lalu aku beranggkat ke kantor setelah sarapan dengan makanan sisa semalam.

Aku sampai kantor pukul tujuh tigapuluh. masih seperti hari sebelumnya, aku harus menaiki anak tangga satu demi satu menuju lantai tiga. Tidak ada lif di gedung ini. Kemudian aku masukkan kartu absensi ke dalam mesin absensi. Sengaja aku datang tiga puluh menit lebih awal dari biasanya, supaya aku bisa pulang lebih awal dan bisa menebus obat Bapak mertuaku di apotik. Setelah aku dapat pinjaman dari kantor tentunya.  Aku nyalakan komputer dan mulai menyusun laporan produk-produk yang berhasil di jual oleh sales-sales disini. Untuk ukuran mahasiswa drop out, aku termasuk beruntung mendapatkan pekerjaan ini. Sejujurnya aku katakan beruntung karena teman SMA ku dulu menjadi Manager di kantor ini. Dan dia menolongku.

Setelah sedikit memelas, akhirnya aku berhasi dapat pinjaman. Agak aneh memang, mengingat pinjamanku yang dulu belum lunas.

Sebelum pulang, sebenarnya aku akan menebus obat di apotik dekat kantor, tapi setelah kupikir-pikir, lebih baik aku menebus obat di apotik di dekat rumah saja sekalian. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah dan membawa obat untuk Bapak mertuaku. Langit mendung, air bening mulai berjatuhan. Awalnya kecil-kecil, kemudian menjadi hujan lebat. Aku duduk di dalam bus, di dekat jendela, memandang keluar melalui kaca jendela yang buram karena air hujan. Pasti macet.

Bersamaan dengan adzan magrib, aku turun dari bus. Masih gerimis. Orang-orang memilih berteduh di halte atau di depan toko-toko. Aku menuju apotik diseberangku. Petugas apotik membaca sebentar resep dariku, lalu masuk kedalam. Bagaimana dia bisa membaca tulisan dokter yang seperti rumput liar itu. Sekali lagi aku terkekeh sendiri. Tiba-tiba lampu mati. Gelap. Mungkin ada pohon tumbang karena hujan lebat yang disertai angin kencang tadi, lalu pohonya menimpa kabel listrik di jalan. Mungkin. Petugas apotik itu lalu keluar lagi membawa  lilin yang menyala dan bungkusan plastik warna biru, didalamnya ada empat jenis obat. Setelah membayar dengan uang hasil pinjaman, aku pulang.

Aku pulang tidak melewati gang yang biasanya, karena ada gang disebelah apotik ini yang juga menuju rumah kontrakan mertuaku. Aku berjalan dalam gelap karena mati lampu . Petir menyambar disertai bunyi gemuruh yang kencang. Kilatan petir itu sejenak menerangi jalanan yang kulaui. Gerimis mulai menjadi hujan. Tetapi tidak lebat. Dua remaja sedang berteduh di depan kios rokok yang tutup. Sepi sekali. Mungkin karena hujan. Aku melalui dua remaja itu. Tiba-tiba satu dari mereka mendorongku. Aku terpojok ditembok. Dia meminta hand phone dan dompetku. Mulutnya bau alkohol. Aku mencoba melawan. Remaja yang satunya menikamkan pisau tepat di jantungku. Aku tersungkur.  Dua remaja itu lari meninggalkanku. Kupegangi jantungku yang terkoyak. Sakit. Dingin. Sepi. Gelap. Hitam. Legam.

(diilhami dari sebuah mitos tentang mimpi gigi tanggal)

Bosan! Bosan! Bosan! Sekarat! Tolooong..

May 4th, 2007 by jempolmu

iya aku tahu! aku masih punya hutang dua cerpen lagi. nanti ya aku bayar. jangan sekarang. sekarang aku lagi bosan!

aku bosan dengan kata, aku bosan dengan kalimat, aku bosan dengan paragraf, aku bosan dengan sinopsis, aku bosan dengan treatment, aku bosan dengan alur, aku bosan dengan cerita, aku bosan dengan kisah, aku bosan dengan naskah, aku bosan dengan ending, aku selalu kesulitan dalam membuat ending! aku ingin semuanya tak punya ending! ya, aku ingin hidupku tak punya ending.

aku bosaaaan! aku bosan dengan imajinasi, aku bosan dengan hayalan, aku bosan dengan ms word, aku bosan dengan laptop, aku bosan dengan huruf-huruf di keyboard, aku bosan ditunggu, aku bosan diburu, aku bosaaan!! tempatku bukan disini! ya, aku ingin pergi.

anjing! bangsat! biadab! laknat! keparat! durjana! bedebah! jalang! jahanam! pecundang! sundal! hina! nestapa! sendu! pilu! dendam! petaka! derita! nelangsa! sekarat! sekarat! ya, aku sedang sekarat. aku sedang sakit, dan aku hampir mati. aku sekarat. aku butuh pertolongan. tolong aku! aku gila! aku sakit! aku hampir mati! tidak tahukah kalian semua kalau aku sekarat! tidak tahukah orang-orang di pasar itu kalau aku sedang sekarat! tidak tahukah orang-orang di gedung tinggi itu kalau aku sedang sekarat! tolong aku! aku sekarat! beri aku obat! aku sekarat! aku tak butuh uang! beri aku obat! aku sekarat! Tolooooong…

Aku ingin bersetubuh denganmu

April 16th, 2007 by jempolmu

April ini terasa dingin, seperti musim semi Inggris yang senantiasa berubah-ubah dengan canggung.

Menjelang tengah malam, terdengar ketukan di pintu. Dia mengenakan kamisol putih terusan, dan tersenyum pada saat aku membuka pintu, tersenyum malu-malu. Dia membawa sebotol Anggur.

Aku mengunci pintu di belakangku dan menuntun dia ke tempat tidur. Di sana, setelah dia menanggalkan kamisol lebih dahulu, aku mengamati wajah dan tubuhnya dalam cahaya lilin, dan setelah mencium kening, bibir, leher, puting, pusar, dan jemari kakinya, dan setelah aku memadamkan lilin, aku ingin bersetubuh denganmu, aku bersetubuh dengannya, tanpa berbicara, dalam cahaya bulan pucat.

02.15 AM. Lobby Hotel 4 Musim

March 31st, 2007 by jempolmu

Aku tinggalkan gelas kedua Martini Lechee yang masih setengah. Setelah kutaruh tiga lembar seratus ribuan dimeja, aku keluar dari bar. Aku menuju ke lif, dan Sial ! aku lupa di parkiran blok berapa aku memarkir mobilku. Kunyalakan rokok sembari berjalan menuju sofa di lobby. Di blok berapa aku memarkir mobilku ya? ukh.. bodoh!

Seorang perempuan berbicara melalui HP duduk disofa yang sama denganku. "Udah deh! gak perlu lagi loe kembali, dan goyahin pendirian gue. Apalagi loe nantinya cuma akan mengulang dan mengulang lagi luka yang sama di hati gue!" kalimat yang tidak sengaja kudengar sebelum dia menutup telfon. "Brengsek!" satu kata yang kulihat dari gerak bibirnya yang tipis. Butiran bening seperti bola embun jatuh dari mata sembabnya. Aku bingung. Aku merasa tidak nyaman duduk di sofa yang sama dengannya. Kunyalakan rokok sebatang lagi. Sesekali aku meliriknya. Perempuan dengan kaos ketat warna hijau terang, rambutnya diikat ekor kuda. Aku melihatnya tadi di dalam bar. HPnya berbunyi. Dia mengabaikannya. Butiran-butiran bola embun semakin sering mengalir dari mata sembabnya. Aku tahu perempuan ini sedang hancur. Aku memang sedang hancur. Tapi perempuan ini jauh lebih hancur. Aku cuma ditusuk dari belakang dengan belati kekasihku hingga menembus dan ujung belati itu mengenai hatiku. Tapi mungkin perempuan ini hatinya digores, disayat, dan di iris kecil-kecil entah oleh siapa. Kekasihnya mungkin. "Maaf ya Mas," tiba-tiba perempuan itu bicara padaku. "Saya sedang kacau." lanjutnya. "Oh iya Mbak, gak pa pa." kataku. "Emang pulangnya kemana Mbak?" dia tidak menjawab. Dia menyalakan rokok. Tiga hisapan, lalu dimatikan lagi. "Mas sory, saya mau nangis. Boleh gak saya pinjam bahunya buat nyandar? saya pingin nangis Mas". Wadoh!! perempuan ini benar-benar sedang kacau sampai nggak bisa mikir. Dia masih memandangku, menunggu jawabanku. Aku bengong. Takut. "Mas, saya nggak mau ngapa-ngapain. Saya cuma mau nangis" dia mulai terisak. Aku memandangnya sejenak. Aku dekatkan tubuhku, kurebahkan kepalanya di dadaku. Dia terisak sejadi-jadinya.Aku memeluknya.

Aku memang sedang hancur. Tapi ternyata ada yang lebih hancur dariku. Aneh ya? tapi aku benar-benar mengalaminya tadi pagi. Dan tahu apa yang ada dibenakku waktu itu? Wadooh! gimana nih. Besok gw liputan pagi jam 7 sama Inge. Aduh Inge, tolongin gw dong. Gimana neh!

(02.15 AM. Lobby Hotel 4 Musim. Aku dan seorang perempuan yang baru aku kenal satu jam. Yang sama-sama sedang patah hati.) 

Laki-laki itu bernama Luka

March 29th, 2007 by jempolmu

Tadi malam sekitar jam 10an, setelah telfonku ditutup secara paksa oleh lawan bicaraku, aku memutuskan untuk meninggalkan kantor. Besok aku libur dua hari, jadi aku lebih memilih pulang ke rumahku di Bekasi Timur daripada pulang ke kost-an. Yah.. akhir-akhir ini liputan-liputanku melelahkan sekali, ditambah ada sedikit masalah pada perasaanku. Aku butuh tempat untuk melepaskan lelahku, dan menenangkan jiwaku. Rumah adalah pilihan yang tepat.

11.30 aku sampai di rumahku. Rumah yang hanya sesekali aku singgahi karena lokasinya cukup jauh dari kantor. Disinilah tempat dimana suatu saat nanti aku akan bercanda dengan anak-anakku. Disinilah tempat dimana suatu saat nanti aku akan membesarkan anak-anakku,, weitz!! ntar dulu, kok udah sampai anak seh? emange ibune sopo? Walah,, kok malah guyon ki lho, iki lagi serius cah,,, serius. Yah.. sebuah rumah yang masih kosong tanpa perabotan. Hanya ada satu tempat tidur, dan satu lemari pakaian yang ada cerminnya gwede baget. Setelah membasuh muka dengan air washtafel, aku masuk kedalam kamar. aku duduk di ranjang menghadap ke cermin yang menyatu dengan lemari pakaian.

Dicermin itu aku melihat seorang laki-laki. Matanya sayu dan pilu. wajahnya pucat pasi. Dari auranya terbaca laki-laki itu sedang memendam kesedihan yang sangat dalam. Sesekali memukuli dadanya agar kesedihan itu tidak berlanjut lagi. Hatinya seperti ditusuk ribuan jarum. Laki-laki itu memukuli dadanya semakin keras. Penuh kebencian. Putus asa. Dibuang dan disisihkan, hina dan tidak dikehendaki. Ia menarik nafasnya dalam-dalam. Matanya yang sayu tiba-tiba menatap nanar kearahku. Laki-laki itu bernama Luka. Aku rebahkan tubuhku ke ranjang, dan laki-laki itupun lenyap dari cermin.

Virus Merah Jambu ternyata lebih jahat dari HIV

March 28th, 2007 by jempolmu

Pernahkah anda mendengar Virus Merah Jambu? Virus ini sebenarnya sudah ada sejak jaman dulu , dan sudah ada beberapa korban yang terkena virus ini. Virus ini tak sepopuler HIV, padahal lebih jahat dari HIV. Penderita HIV akan meninggal 5-7 tahun kemudian, sedangkan penderita Virus Merah Jambu bisa menderita seumur hidupnya.

Aku juga baru mengenal Virus Merah Jambu ini beberapa hari yang lalu dari Kang Paijo tetangganya Lek Kertomidin yang rumahnya disebelah rumah Mbah Slamet. Kang Paijo yang dikenal periang, ramah, dan lucu tiba-tiba menjadi seorang pesakitan. Dia kelihatan menderita sekali sampai nggak mau ngapa-ngapain. makan nggak mau, mandi jarang, nggak pernah tidur, kerjaannya ngelamun terus seperti orang kesambet setan. Setelah dirayu sama Mbah Slamet, akhirnya Kang Paijo mau bicara. Dia mulai bercerita.

Jadi ceritanya bermula ketika suatu hari Kang Paijo sedang berjalan sendirian. ceritanya mau mencari jatidiri gitu. Nha, dalam perjalananya itu dia bertemu iblis yang baik hati. Iblis yang bersemayam dihati manusia, iblis yang bersembunyi di tubuh nan indah, dan.. Hallah!! kok jadi nglantur ki piye,, Enggak denk, iblis yang ditemui Kang paijo itu benar-benar iblis. sekali lagi, iblis yang baik hati. Lalu berjalanlah mereka berdua. Kang Paijo dan iblis yang baik hati. Kang Paijo senang sekali karena perjalanannya tidak sendiri lagi, tapi ada yang menemani walaupun itu iblis. Sekali lagi, iblis yang baik hati. Mereka ngobrol ngalor-ngidul, ngetan-ngulon nggak karuan, ketawa ketiwi, cubit cubitan, senggal senggolan.. Hallah !! nglantur lagi tho,, Pokoknya intinya Kang Paijo senang sekali dan terlena, sampai dia lupa kemana tujuan perjalanan dia seharusnya. Nha sampai dipersimpangan jalan, iblis yang baik hati itu mengajak Kang Paijo untuk memilih jalan yang kanan aja supaya bisa bersama sama terus, kata iblis yang baik hati itu. Padahal seharusnya tujuan perjalanan Kang Paijo adalah jalan yang kiri. Mungkin karena udah tertular Virus Merah Jambu, akhirnya Kang Paijo memilih jalan yang kanan bersama iblis yang baik hati itu. baru dua langkah, iblis yang baik hati itu terbang ke langit. dan Kang Paijo Bengong.

Nah, begitu cerita Kang Paijo. Katanya dia udah tertular Virus Merah Jambu, dan Gejala-gejalanya cuma dua yaitu ngelamun terus dan mau ngapa-ngapain malas. Virus ini menyerang Hati dan pikiran, dan membuat syaraf-syaraf tubuh manusia menjadi lemah dan malas. Jadi, Hati-hatilah kalian bila dalam perjalanan loe loe pade ntar ketemu iblis yang baik hati cepat-cepatlah kunci hati loe, karena menurut pengalaman Kang Paijo Virus ini menyerang hati dulu baru ke pikiran.

Ketika seorang Don Juan menulis surat patah hati untuk kekasihnya

March 26th, 2007 by jempolmu

Ini bukan tulisan seorang mahasiswa filsafat. Ini hanya tulisan temanku seorang Don Juan yang sedang menjadi pesakitan. Surat seorang Don Juan yang sedang patah hati.

Begini bunyinya:

Dear, Bedebahku..

Gw gak tahu apa yang sedang ada dalam pikiran lo. Dan Gw gak ngerti dengan sikap lo. Gw masih inget banget waktu pertama kali gw lihat lo, sampai akhirnya gw dan lo bisa ngobrol. Owkey. anggap saja waktu itu gw datengin lo. gw datengin lo dengan perasaan yang kosong tapi masih dengan pikiran yang sehat.

Banyak hal yang gw dan lo obrolin. Sampai akhirnya gw dan lo berdebat karena ketidaksepahaman dalam memandang cinta. Gw bilang cinta itu bodoh, tolol, dan buang buang waktu. Karena menurut gw semakin dekat seorang laki-laki dengan cinta, maka dia akan menjadi orang paling bodoh di Indonesia. Dia tidak akan bisa berpikir dengan logika atau akal sehat. Tapi lo bilang cinta itu indah, cinta itu anugerah, cinta bisa membuat hidup manusia menjadi penuh warna seperti pelangi. Orang yang paling merugi di Indonesia adalah orang yang tidak bisa merasakan cinta.

Waktu itu gw masih tetap pada pendirian gw tentang cinta. Satu lagi pendapat yang membuat gw makin yakin dengan pendirian gw. Cinta=bunuh diri. Tapi lagi-lagi lo dateng dengan kalimat-kalimat dan pendapat-pendapat yang sama sekali tidak pintar menurut pikiran, tapi benar menurut perasaan. Lo gigih mengkampanyekan cinta versi lo. Dan akhirnya gw pingin tahu gw apa lo yang benar. Hanya ada satu cara untuk mencari tahu, gw harus mencobanya.

Dengan bantuan lo, gw mulai berjalan. tertatih-tatih gw berjalan disamping lo. Lo bener, banyak hal baru yang gw temuin di perjalanan itu. lo kenalin ke gw sesuatu yang baru dan asing buat gw. Dan lama-lama gw hampir bisa menikmatinya. Disini pikiran gw kalah dengan perasaan gw. Gw udah gak mampu lagi melawan perasaan gw. Ya.. bersama lo gw bisa merasakan sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Lo gw jadikan separuh jiwaku dan separuh nafasku. Lo menjadi bagian hidup gw.

Tapi tiba-tiba, ABRAKADABRAA…!! CLING !! lo menguap. Menghilang entah kemana. Meninggalkan gw di negeri entah berantah, disebuah tempat yang benar-benar asing karena gw belum pernah kesana sebelumnya.Gw tersesat. Lo tinggalin gw tanpa pesan dan tidak meninggalkan peta untuk gw pulang. Gw hancur. Perasaan gw terjun bebas. gelap, dingin, dan sunyi.

Itu tadi surat yang ditulis temanku yang seorang Don Juan untuk kekasihnya. Saat dia mengirimkan suratnya kepadaku, dia masih tersesat di negeri entah berantah itu. Katanya disana tidak ada internet, bahkan sinyal HP aja gak ada, dan akhirnya dia mengirimkan kepadaku menggunakan telepati, tehnologi komunikasi paling mutakhir yang hanya dimiliki para Don Juan. Temanku itu memintaku untuk menyampaikan suratnya kepada kekasihnya.