Pukul lima lewat lima belas. Aku masukkan kartu absensiku ke dalam mesin absen. Langkahku berat untuk menuruni satu demi satu anak tangga menuju lantai satu. Tidak ada lif di gedung ini.
Lelah sekali aku. Belum lagi aku harus mengahadapi kemacetan yang biadab antara Cawang menuju Depok, didalam bus Mayasari, penuh sesak, bau, dan kadang aku harus berdiri. Brengsek! kota sialan, kota kegagalan, kota putus asa, kota kekecewaan, penuh kubangan taik, dan kriminal. Sepanjang perjalan aku hanya memaki-maki dalam hati. Memaki-maki rutinitas seperti ini yang harus kujalani setiap hari. Seperti ini dan seperti ini lagi. Rutinitas yang membosankan, yang bisa membunuhku kapan saja. Aku terus memaki-maki atas kegagalan hidupku. Aku yang goblok dan tidak berguna. Aku sampah.
Hidupku tidak akan seperti ini kalau saja Bapakku seorang seniman. Laki-laki sensitif. Tapi Bapakku tidak seperti itu. Bapakku adalah politisi, yang kepalanya sekeras batu dan pendiriannya seperti batu karang. Yang menganggap dirinya manusia paling sempurna. Yang selalu menggoblok-gobloki aku saat namaku tidak tercantum di pengumuman SIPENMARU, dan saat aku tidak lulus ujian masuk Fakultas Tehnik di Universitas swasta ternama. Dan aku lebih digoblok-gobloki lagi karena aku hanya diterima di Fakultas Ekonomi jurusan Akutansi di sebuah Universitas swasta kampungan, yang hanya berhasil menciptakan banyak pengangguran. Bapakku terus menggoblok-gobloki aku tanpa ampun. Hatiku ngilu. Biarkan aku menjadi diriku sendiri Pak. Aku hanya berani mengatakannya dalam hati. Hanya dalam hati.
Bus yang kutumpangi berhenti di depan Mal Depok. Jalanan macet. Sama sekali tidak bergerak. Aku turun dan berjalan kaki karena gang menuju rumahku sudah tidak jauh lagi. Maksudku, rumah kontrakan mertuaku. Setelah menikah, aku numpang dirumah kontrakan mertuaku, karena untuk tinggal bersama orang tuaku di Pondok Indah rasanya tidak mungkin. Ada alasan klasik yang membuat aku tidak bisa tinggal bersama orang tuaku. Aku merasakan sesuatu merambat naik didalamku. Hatiku sakit. Tiba-tiba aku ingat saat Bapakku membanding-bandingkan aku dengan dia. Bahwa dia mampu menaklukkan Jakarta. Bahwa dia adalah perantauan yang sukses dan berhasil menjadi orang kaya, setidaknya bisa beli rumah di Pondok Indah. Tidak seperti aku. Laki-laki gagal dan tidak berguna.
Sesampainya di rumah, istriku sedang menonton sinetron sambil menyusui Hening anakku. Aku letakkan tas kerjaku di meja makan dan langsung menuju kamar mandi. Aku lalu melucuti pakaianku, dan mandi air dingin dengan gayung. Selesai mandi, istriku sudah menyiapkan teh hangat dan sepiring nasi hangat yang baru diambil dari majig jar. Aku mengambil lauk tempe bacem dan sayur kacang panjang.
" Mas, obatnya Bapak yang setengah lagi sudah jadi ditebus?" Istriku membuka obrolan sambil menimang-nimang Hening anakku supaya tidur.
"Belum. Aku belum ketemu orang bagian keuangan, mereka ada meeting tadi." Bapak mertuaku sedang sakit. Dia menjadi sakit-sakitan sejak meninggalnya Ibu mertuaku. Sudah seharusnya ini menjadi tanggung jawabku. Tapi untuk beli obat bapak mertuaku saja aku harus cas bon kantor dulu. Tidak berguna. Aku memang tidak berguna.
"Tadi malam aku mimpi lagi Mas. Dan ini sudah tiga hari berturut-turut aku mimpi yang sama. Gigiku tanggal." tampak kekhawatiran di wajah istriku.
"Sama seperti beberapa hari sebelum Ibu meninggal dulu, aku juga mimpi seperti ini. Aku takut Mas. Bapak itu sudah sepuh, dan sakitnya tidak sembuh-sembuh." Sambungnya, masih sambil menimang-nimang anakku yang sedikit terbangun.
"Iya Sri, Besok aku tebus obatnya ya." Istriku lalu masuk ke dalam kamar setelah melihat keadaan bapak mertuaku terlebih dulu.
Aku selesaikan suapan terakhirku, dan kudorong makanan yang kukunyah dengan teh hangat supaya masuk kedalam perutku. Setelah mengambil Dji Sam Soe dari tas kerjaku, aku lalu duduk didepan televisi. Aku pijit-pijit Dji Sam Soe ku yang kubeli dari asongan di halte saat aku menunggu bus tadi. Ketengan. Aku tidak mampu membeli sebungkus rokok sejak anakku lahir. Ironis kalau uangku mengepul menjadi asap rokok sedangkan anakku hanya minum sebotol kecil susu lanjutan asi setiap harinya. Aku raih remote di sampingku, aku pindahkan saluran televisi dari SCTV ke RCTI. Breaking News, Seorang pengendara sepeda motor tewas tertimpa crine dari sebuah proyek di jalan Sudirman. Memang banyak cara untuk mati di Jakarta ini. Kenapa tidak aku saja yang tertimpa crine itu. Biar aku mati. Dan tidak bisa merasakan beban hidup yang berat ini. Dan tidak merasakan hidup sebagai orang gagal total seperti ini.
Srikandi nama istriku, seharusnya dia mendapatkan laki-laki tangguh seperti arjuna. Bukan seperti aku yang tidak bisa melindunginya dari beratnya hidup. Aku mengenalnya dulu waktu aku masih kuliah, dia satu tingkat dibawahku. Orang tuanya, yaitu mertuaku sekarang, dulu berjualan nasi gudeg dijalan seberang kampusku. Aku sering makan disana, dan kadang-kadang Sri yang melayaniku kalau sedang tidak ada kuliah. Sri memang perempuan sederhana, yang tidak malu membantu orang tuanya berjualan padahal di depan kampusnya sendiri. Berbeda dengan cewek-cewek kampusku kebanyakan, yang hanya pintar bersolek dan rela merendahkan dirinya hanya untuk sekedar mendapatkan hand phone keluaran terbaru, atau hanya untuk sekedar dibilang seksi. Sri tidak seperti itu. Dan aku jatuh cinta padanya, lalu kamipun pacaran. Suatu hari Sri bilang padaku bahwa dia hamil. Aku juga tidak mengerti bagaimana dia bisa hamil, padahal seingatku aku selalu orgasme diluar. Tapi aku harus bertanggungjawab. Aku ingin bersikap seperti laki-laki. Aku bilang kepada orang tuaku kalau aku menghamili Sri dan aku akan menikahinya. Aku pikir Bapakku akan bangga karena aku laki-laki yang bertanggungjawab. Tapi ternyata aku salah, aku justru diusir dan tidak dianggap anak lagi. Aku diusir seperti kucing. Ibuku tidak bisa berbuat apa-apa, terlalu takut pada Bapakku. Hatiku hancur. Aku bersumpah, suatu saat nanti aku akan jadi kaya. Aku akan buka restoran gudeg diseluruh propinsi, dan aku akan mencetak berjuta-juta rupiah sebagai pengusaha seperti Ayam Bakar Wong Solo. Dan akan kuludahi omongan Bapakku. Tapi melihat keadaanku sekarang, sepertinya Bapakku yang lebih pantas meludahiku.
Seminggu setelah aku menikah dengan Sri, dalam sebuah pernikahan tanpa kehadiran orang tuaku. Aku sedang duduk di depan televisi di rumah kontrakan mertuaku saat Ibu mertuaku digotong oleh beberapa orang, diantar pulang dalam keadaan pingsan. Setelah aku tanya dari orang-orang yang mengantar, ibuku shock karena lapak tempat berjualan nasi gudeg diobrak-abrik oleh Satuan Polisi PP. Mimpiku untuk menjadi pengusaha restoran kandas sudah. Sejak saat itu Ibu mertuaku sakit-sakitan. Uang tabungan mereka habis dirumah sakit, dan dua bulan kemudian Ibu mertuaku meninggal. Tidak cukup sampai disitu. Sepeninggalan Ibu mertuaku, Bapak mertuaku yang sakit-sakitan. sampai sekarang.
Kumatikan televisi dan juga rokokku. Mataku seperti digelayuti timah dua kilogram. Lelah dan ngantuk. Sebelum masuk ke kamarku, aku singgah sebentar ke kamar Bapak mertuaku. Tubuhnya kurus terbaring diatas tempat tidur. Nafasnya berat, tapi cepat sekali dadanya naik turun. Entah darimana pikiran itu datang, tiba-tiba aku melihat Bapakku yang terbaring di tempat tidur itu. Sulit bernafas, matanya mendelik-mendelik, seperti mau mati tapi susah, dan akhirnya mati seperti seharusnya. Aku terkekeh sendiri.
Hand phone Nokia 3210 berbunyi. Ternyata alarm. Kuraih 3210 ku dan kumatikan alarmnya. Pukul setengah lima dini hari. Aku malas sekali untuk bangun. Badanku pegal-pegal. Kepalaku pusing, membayangkan yang harus aku lalui hari ini. Masih seperti kemarin. Kebosanan yang mematikan. Aku bangun, mandi, dan mengambil kemeja krem dan celana bahan hitam untuk kukenakan. Istriku masih tertidur bersama anakku. Dalam Hening. Seperti nama anakku. Kukecup kening istri dan anakku, lalu aku beranggkat ke kantor setelah sarapan dengan makanan sisa semalam.
Aku sampai kantor pukul tujuh tigapuluh. masih seperti hari sebelumnya, aku harus menaiki anak tangga satu demi satu menuju lantai tiga. Tidak ada lif di gedung ini. Kemudian aku masukkan kartu absensi ke dalam mesin absensi. Sengaja aku datang tiga puluh menit lebih awal dari biasanya, supaya aku bisa pulang lebih awal dan bisa menebus obat Bapak mertuaku di apotik. Setelah aku dapat pinjaman dari kantor tentunya. Aku nyalakan komputer dan mulai menyusun laporan produk-produk yang berhasil di jual oleh sales-sales disini. Untuk ukuran mahasiswa drop out, aku termasuk beruntung mendapatkan pekerjaan ini. Sejujurnya aku katakan beruntung karena teman SMA ku dulu menjadi Manager di kantor ini. Dan dia menolongku.
Setelah sedikit memelas, akhirnya aku berhasi dapat pinjaman. Agak aneh memang, mengingat pinjamanku yang dulu belum lunas.
Sebelum pulang, sebenarnya aku akan menebus obat di apotik dekat kantor, tapi setelah kupikir-pikir, lebih baik aku menebus obat di apotik di dekat rumah saja sekalian. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah dan membawa obat untuk Bapak mertuaku. Langit mendung, air bening mulai berjatuhan. Awalnya kecil-kecil, kemudian menjadi hujan lebat. Aku duduk di dalam bus, di dekat jendela, memandang keluar melalui kaca jendela yang buram karena air hujan. Pasti macet.
Bersamaan dengan adzan magrib, aku turun dari bus. Masih gerimis. Orang-orang memilih berteduh di halte atau di depan toko-toko. Aku menuju apotik diseberangku. Petugas apotik membaca sebentar resep dariku, lalu masuk kedalam. Bagaimana dia bisa membaca tulisan dokter yang seperti rumput liar itu. Sekali lagi aku terkekeh sendiri. Tiba-tiba lampu mati. Gelap. Mungkin ada pohon tumbang karena hujan lebat yang disertai angin kencang tadi, lalu pohonya menimpa kabel listrik di jalan. Mungkin. Petugas apotik itu lalu keluar lagi membawa lilin yang menyala dan bungkusan plastik warna biru, didalamnya ada empat jenis obat. Setelah membayar dengan uang hasil pinjaman, aku pulang.
Aku pulang tidak melewati gang yang biasanya, karena ada gang disebelah apotik ini yang juga menuju rumah kontrakan mertuaku. Aku berjalan dalam gelap karena mati lampu . Petir menyambar disertai bunyi gemuruh yang kencang. Kilatan petir itu sejenak menerangi jalanan yang kulaui. Gerimis mulai menjadi hujan. Tetapi tidak lebat. Dua remaja sedang berteduh di depan kios rokok yang tutup. Sepi sekali. Mungkin karena hujan. Aku melalui dua remaja itu. Tiba-tiba satu dari mereka mendorongku. Aku terpojok ditembok. Dia meminta hand phone dan dompetku. Mulutnya bau alkohol. Aku mencoba melawan. Remaja yang satunya menikamkan pisau tepat di jantungku. Aku tersungkur. Dua remaja itu lari meninggalkanku. Kupegangi jantungku yang terkoyak. Sakit. Dingin. Sepi. Gelap. Hitam. Legam.
(diilhami dari sebuah mitos tentang mimpi gigi tanggal)